Selasa, 11 Desember 2012

Surat RIndu - 1

by : Risa Umari Y.A. at 9:12:00 PM 0 komentar
Mama, kau tahu? Hidup jauh darimu itu sangat tidak mengenakkan. Walaupun aku makan berlaukkan daging, itu terasa pahit. Sesegar apapun minuman yang aku teguk, tak cukup menghilangkan dahaga ini.

Mama, saat ini aku tumbuh ,mulai dewasa. Mungkin saatnya aku harus membuat keputusan sendiri. Belajar bertahan hidup di tengah masyarakat seorang diri. Walau sebenarnya kau tetap membimbingku dari jauh.
Mama, kau ingatkan nasihat yang pernah kau katakana padaku dulu? Untuk belajar memasak, mencuci, dan membersihkan kamarku sendiri. Dulu aku piker aku tak membutuhkannya. Ternyata, sekarang aku benar-benar butuh. Aku sangat memerlukannya.

Untungnya dengan sabar kau membimbingku melakukan ini semua. Hingga saat ini, Alhamdulillah aku mampu melakukannya. Walau tak sehebat engka, Mama.

Sabtu, 08 Desember 2012

Mungkin Hanya Ini

by : Risa Umari Y.A. at 6:04:00 PM 0 komentar
"Kita menulis bersama di kertas yang sama. 
Bersama pula mewarnainya. 
Tapi, haruskah aku sendiri yang menghapusnya?"

"Aku menadahi hujan ini sendirian. 
Dua sumber berbeda namun sama. 
Dari Tuhan dan dari pelupuk ini.
Keduanya sama-sama dingin dan nyenyat. "

"Di luar hujan. Di jendela kamar kulihat kehilangan yang mengembun."



Jogjakarta, 8 Desember 2012
17.35
dalam perasaan yang sama seperti hujan. Dingin, pucat, dan beku
-Hafsa Karosita

Minggu, 25 November 2012

Sejiwa yang Pudar

by : Risa Umari Y.A. at 9:25:00 AM 0 komentar
Mungkin saja hujan memudarkan sejiwa itu. Atau kau yang menyublim perlahan. Ah, nampaknya aku tak tahu menahu apa yang tengah terjadi pada dirimu. Aku masih saja duduk manis sambil menikmati setengah cangkir cappucino.

Biasanya setelah pulang dari kelas menulis, aku selalu menceritakan banyak hal padamu. Tentang begitu bahagianya aku saat bertemu dengan seseorang yang mampu membuatku meleleh dengan kata indah nan puitis yang ia tuliskan. Atau betapa bahagianya aku saat berjumpa dengan banyak orang yang memiliki keinginan dan mungkin kemampuan yang lebih dahsyat dariku.

Aku rindu bercerita itu padamu. Di tengah kelas, aku berpikir. Lalu, dengan siapakah aku akan berbagi kali ini? Entahlah. Seperti ada sepotong duri di antara kita. Aku ingin berkata, berucap, bercerita padamu. Tapi... Ah, sudahlah.

Walaupun dalam keadaan bahagia seperti ini, ini bukan bahagia namanya jika aku tak bisa berbagi denganmu. Ah, aku merasakan sakit dan bahagia itu seorang diri, tanpa ada kamu. Tanpa kamu yang selalu saja setia mendengar ceritaku seperti erangan laron.

Entah, mungkin hujan senja itu membantuku menurunkan bulir. Saat aku memulai kewajibanku pada-Nya, air itu jatuh. Ah, sedahsyat inikah hujan senja ini?

Selasa, 20 November 2012

Kamu? Ah, entahlah...

by : Risa Umari Y.A. at 10:32:00 PM 0 komentar
Selamat malam kau
kau yang di sana
entah sedang apa
yang mungkin tak sedang memikirkanku
namun entah beruntung atau tidak dirimu
aku memikirkanmu
mendoakanmu di tengah malam ini
selalu saja begitu
ah, entahlah...

tahukah kau, 
sesak rasanya
di tiap tarikan nafas
rasanya pulmo ini menanggung beban
teramat banyak sekali
ingin menyeruak keluar
bermain dengan ikatan udara
namun, entahlah...

Jumat, 16 November 2012

by : Risa Umari Y.A. at 10:22:00 AM 0 komentar

by : Risa Umari Y.A. at 10:14:00 AM 0 komentar

Kamis, 15 November 2012

101112

by : Risa Umari Y.A. at 12:54:00 PM 2 komentar
pernah suatu saat kita berjanji untuk bertemu
mungkin bukan janji yang terlalu penting bagimu
yah, entahlah aku selalu yakin bahwa saat-saat 
yang berkaitan denganmu itu sangat penting
sangat wajib untuk kuingat dan mungkin kutulis di sini

mungkin apapun yang berkaitan denganmu
ya dengan namamu selalu kutulis di sini
agar aku bisa mengingatnya nanti
atau mungkin agar banyak yang mendoakannya ini untuk kita
maaf, maksudnya kebaikan untukku, untukmu, dan semoga saja kita

siang itu aku masih saja terjebak di tengah pekatnya asap Jogja
di antara rentetan mobil, motor, dan deru asap kendaraan
aku berjuang.
ummm tidak juga sih
ah, bahasaku terlalu berlebihan
untuk bertemu kamu di suatu tempat
tempat yang menuturutmu, dan juga aku sangat menarik

sebuah toko buku dengan cafe di lantai dua
aku selalu merasa aman, nyaman, 
dan selalu saja kepalau dipenuhi tentang angan tentangmu
ah, maafkan aku

sudah, sekarang kita duduk bersisian di sini
berhadapan
merengkuh segelas susu vanilla
manis, ah sangat manis
entah gula yang terlalu banyak tertakar, atau karena aku melihatmu?
ah, lagi-lagi aku terlalu jujur

Selasa, 11 Desember 2012

Surat RIndu - 1

Diposting oleh Risa Umari Y.A. di 9:12:00 PM 0 komentar
Mama, kau tahu? Hidup jauh darimu itu sangat tidak mengenakkan. Walaupun aku makan berlaukkan daging, itu terasa pahit. Sesegar apapun minuman yang aku teguk, tak cukup menghilangkan dahaga ini.

Mama, saat ini aku tumbuh ,mulai dewasa. Mungkin saatnya aku harus membuat keputusan sendiri. Belajar bertahan hidup di tengah masyarakat seorang diri. Walau sebenarnya kau tetap membimbingku dari jauh.
Mama, kau ingatkan nasihat yang pernah kau katakana padaku dulu? Untuk belajar memasak, mencuci, dan membersihkan kamarku sendiri. Dulu aku piker aku tak membutuhkannya. Ternyata, sekarang aku benar-benar butuh. Aku sangat memerlukannya.

Untungnya dengan sabar kau membimbingku melakukan ini semua. Hingga saat ini, Alhamdulillah aku mampu melakukannya. Walau tak sehebat engka, Mama.

Sabtu, 08 Desember 2012

Mungkin Hanya Ini

Diposting oleh Risa Umari Y.A. di 6:04:00 PM 0 komentar
"Kita menulis bersama di kertas yang sama. 
Bersama pula mewarnainya. 
Tapi, haruskah aku sendiri yang menghapusnya?"

"Aku menadahi hujan ini sendirian. 
Dua sumber berbeda namun sama. 
Dari Tuhan dan dari pelupuk ini.
Keduanya sama-sama dingin dan nyenyat. "

"Di luar hujan. Di jendela kamar kulihat kehilangan yang mengembun."



Jogjakarta, 8 Desember 2012
17.35
dalam perasaan yang sama seperti hujan. Dingin, pucat, dan beku
-Hafsa Karosita

Minggu, 25 November 2012

Sejiwa yang Pudar

Diposting oleh Risa Umari Y.A. di 9:25:00 AM 0 komentar
Mungkin saja hujan memudarkan sejiwa itu. Atau kau yang menyublim perlahan. Ah, nampaknya aku tak tahu menahu apa yang tengah terjadi pada dirimu. Aku masih saja duduk manis sambil menikmati setengah cangkir cappucino.

Biasanya setelah pulang dari kelas menulis, aku selalu menceritakan banyak hal padamu. Tentang begitu bahagianya aku saat bertemu dengan seseorang yang mampu membuatku meleleh dengan kata indah nan puitis yang ia tuliskan. Atau betapa bahagianya aku saat berjumpa dengan banyak orang yang memiliki keinginan dan mungkin kemampuan yang lebih dahsyat dariku.

Aku rindu bercerita itu padamu. Di tengah kelas, aku berpikir. Lalu, dengan siapakah aku akan berbagi kali ini? Entahlah. Seperti ada sepotong duri di antara kita. Aku ingin berkata, berucap, bercerita padamu. Tapi... Ah, sudahlah.

Walaupun dalam keadaan bahagia seperti ini, ini bukan bahagia namanya jika aku tak bisa berbagi denganmu. Ah, aku merasakan sakit dan bahagia itu seorang diri, tanpa ada kamu. Tanpa kamu yang selalu saja setia mendengar ceritaku seperti erangan laron.

Entah, mungkin hujan senja itu membantuku menurunkan bulir. Saat aku memulai kewajibanku pada-Nya, air itu jatuh. Ah, sedahsyat inikah hujan senja ini?

Selasa, 20 November 2012

Kamu? Ah, entahlah...

Diposting oleh Risa Umari Y.A. di 10:32:00 PM 0 komentar
Selamat malam kau
kau yang di sana
entah sedang apa
yang mungkin tak sedang memikirkanku
namun entah beruntung atau tidak dirimu
aku memikirkanmu
mendoakanmu di tengah malam ini
selalu saja begitu
ah, entahlah...

tahukah kau, 
sesak rasanya
di tiap tarikan nafas
rasanya pulmo ini menanggung beban
teramat banyak sekali
ingin menyeruak keluar
bermain dengan ikatan udara
namun, entahlah...

Jumat, 16 November 2012

Diposting oleh Risa Umari Y.A. di 10:22:00 AM 0 komentar

Diposting oleh Risa Umari Y.A. di 10:14:00 AM 0 komentar

Kamis, 15 November 2012

101112

Diposting oleh Risa Umari Y.A. di 12:54:00 PM 2 komentar
pernah suatu saat kita berjanji untuk bertemu
mungkin bukan janji yang terlalu penting bagimu
yah, entahlah aku selalu yakin bahwa saat-saat 
yang berkaitan denganmu itu sangat penting
sangat wajib untuk kuingat dan mungkin kutulis di sini

mungkin apapun yang berkaitan denganmu
ya dengan namamu selalu kutulis di sini
agar aku bisa mengingatnya nanti
atau mungkin agar banyak yang mendoakannya ini untuk kita
maaf, maksudnya kebaikan untukku, untukmu, dan semoga saja kita

siang itu aku masih saja terjebak di tengah pekatnya asap Jogja
di antara rentetan mobil, motor, dan deru asap kendaraan
aku berjuang.
ummm tidak juga sih
ah, bahasaku terlalu berlebihan
untuk bertemu kamu di suatu tempat
tempat yang menuturutmu, dan juga aku sangat menarik

sebuah toko buku dengan cafe di lantai dua
aku selalu merasa aman, nyaman, 
dan selalu saja kepalau dipenuhi tentang angan tentangmu
ah, maafkan aku

sudah, sekarang kita duduk bersisian di sini
berhadapan
merengkuh segelas susu vanilla
manis, ah sangat manis
entah gula yang terlalu banyak tertakar, atau karena aku melihatmu?
ah, lagi-lagi aku terlalu jujur


 

Secangkir Capuccinno Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea